Jumat, 29 Mei 2009

TASAWUF

Tasawuf
awal muncul dan perkembangannya

kita sering mendengar pembicaraan tentang tasawuf.
Ada sebagian orang yang memujinya secara berlebihan, namun ada pula yang secara habis-habisan mencelanya. Akhirnya pamahaman pun menjadi kabur dan kebenaran menjadi sulit ditangkap. Namun demikian, Allah SWT, telah membangkitkan para ulama yang dapat menjelaskan secara benar hakikat ini dengan timbangan syariat. Sebagian ulama itu adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Syahid Hassan Al-Banna. Keduanya telah memaparkan pendapatnya tentang tasawuf, dan mereka memiliki titik temu dalam pandangannya itu. Sebuah pandangan yang arif dan berada di jalan pertengahan.
Itulah pendapat dan pandangan yang menegaskan kebenaran dan mengingkari kebathilan tanpa sikap berlebihan.
Kini, mari kita simak nukilan dari pendapat-pendapat mereka berdua:

TUMBUHNYA TASAWUF

Tasawuf pertama kali muncul di Bashrah. Syaikhul Islam berkata: "pertama kali muncul tasawuf dari Bashrah. Sedang orang yang pertama kali membangun tasawuf adalah sahabat-sahabat Abdul Wahid bin Zaid.
Sedangkan Abdul Wahid adalah salah satu dari sahabat Hasan Al-Bashri. Ketika itu di Bashrah muncul fenomena ekstrem dalam zuhud, ibadah, khauf (rasa takut) dan sebagainya, yang tidak pernah ada bandingannya selama ini.*
Syaikhul Islam telah mengambil pendapat yang kuat mengenai penamaan tasawuf, yaitu: "pakaian yang berwarna shuf"

SEPUTAR KERANCUAN MASALAH TASAWUF

pada awlnya mereka adalah orang-orang yang menjalani kehidupan zuhud. Mereka begitu gigih dan tegar dalam menjalani gaya hidupnya itu, sehingga melahirkan perilaku yang tidak pernah dikenal pada masa generasi pertama Islam, baik pada masa sahabat maupun masa Tabi'n. Seperti teriak-teriak bila mendengar Qur'an dan lain sebagainya. Ada di antara mereka yang alim dan takwa tetapi ada pula yang jahil. Ada di antaranya yang ikhlas dan jujur namun ada pula yang dusta. Karena itu, orang pun simpang siur dalam menyikapinya, antara yang memuji dan mencela.
Syaikhul Islam berkata,
"orang-orang berselisih pendapat mengenai tasawuf. Satu kelompok mencela tasawuf seraya berkata bahwa mereka adalah para ahli bid'ah dan telah keluar dari sunnah. Dari kelompok ini dan para imam mereka banyak kita dapatkan nukilan pendapatnya yang cukup dikenal, yang kemudian diikuti oleh kelompok lain terutama dari kalangan ahli fiqih dan ilmu kalam. Sementara bkelompok lain memujinya secara berlebihan dan mengatakan bahwa ahli tasawuf adalah makhluk yang paling mulia dan paling sempurna setelah para nabi.*

PENDAPAT SYAIKHUL ISLAM

setelah ia mengungkap pendapat orang tentang tasawuf, ia kini mengungkapkan pendapatnya sendiri, yang menepuh jalan tengah dengan berpatokan kepada timbangan syariat.
Ia berkata, "pendapat kedua kelompok di atas sama sama tercelanya. Yang benar adalah bahwa mereka orang-orang yang taat kapada Allah ta'ala sebagaimana usaha orang-orang yang taat lainnya. Ada sebagian mereka yang ada di depan karena kesungguhan usahanya, ada diantara mereka yang cukupan saja. Di antara keduanya ada orang-orang yang berusaha namun jatuh dalam kekeliruan, sementara yang lain ada yang ahli berbuat dosa kemudian bertobatm atau tidak bertobat sama sekali. Sedangkan di antara orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada golongan tasawuf ini, ada pula yang menganiaya diri dan berbuat maksiat kepada Tuhannya."*

TASAWUF ITU HAKIKATNYA BAIK

Syaikhul Islam menjelaskan bahwa tasawuf itu asalnya baik. Ia berakar pada sikap zuhud, ibadah, tazkiyyah an-nafs (pembersihan jiwa), shidiq dan ikhlas.
Syaikhul Islam berkata, "tasawuf bagi mereka memiliki beberapa prinsip dan perilaku yang telah dikenal,
yang telah mereka bicarakan batas-batas dan asal-usulnya. Seperti apa yang mereka katakan bahwa sufi (ahli tasawuf) adalah orang yang bersih dari kotoran dan sarat dengan muatan fikir. Baginya sama saja antara emas dan batu. Tasawuf – demikian lanjutnya – adalah menyembunyikan makna dan menghindari pengakuan atau semisalnya. Mereka menghendaki dari makna tasawuf itu makna shidiq."*

PENYIMPANGAN TASAWUF

kita telah mengetahui bahwa tasawuf pada dasarnya baik, karena ia tegak di atas hal-hal yang ditetapkan Islam sebagai aplikasi kandungan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Namun di kemudian hadi banyak orang yang menisbatkan dirinya pada kelompok tasawuf ini, sementara mereka memiliki aqidah dan tujuan ibadah yang menyimpang dari semestinya. Mulailah praktek khurafat dan kebatilan merasuk ke dalamnya, yang bahkan diingkari oleh tokoh-tokoh lurus dari kalangan tasawuf itu sendiri.
Syaikhul Islam berkata, "beberapa kalangan dari ahli bid'ah dan zindik telah menisbatkan dirinya sebagai ahli tasawuf, namun di kalangan tokohnya yang lurus mereka tidak diakui. Seperti Al-Hallaj misalnya. Banyak di antara tokoh tasawuf yang mengingkarinya dan mengeluarkannya dari barisan mereka. Demikian juga dengan Junaid bin Muhammad Sayyidut Thaifah dan lainnya,
sebagaimana dalam Thabaqat Suufiyyah dan disebutkan pula oleh Al-Khatib Abu Bakar dalam Taarikh Baghdad."*
ketika itulah dalam dunia tasawuf bercampur aduk antara hal-hal yang haq dan yang bathil; yang lurus dan yang sesat; yang sunahdan yang bid'ah; kebodohan dan ilmu. Merasuklah ke dalamnya racun filsafat yang aneh-aneh. Tasawuf gaya filsafat yang aneh ini telah mendapatkan kritik dan pengingkaran yang tajam dari kalangan para ahli tasawuf yang lurus. Oleh sebab itu, tasawuf kemudian dapat dibagi menjadi dua:
Tasawuf Ahli Ilmu dan Istiqamah.
"di antara mereka adalah Fudhail bin 'Iyadh, Ibrahim bin Adham, Abi Sulaiman Ad-Daaraani, Ma'ruf Al-Karkhie, Junaid Bin Muhammad, Sahl bin Abdullah Al-Tastari dan lainnya. Semoga Allah meridhai mereka.*
Tasawuf Filsafat, bid'ah dan zindiqah.
Tasawuf ini memunculkan ajaran-ajaran aneh, semisal wihdatul wujud (bersatunya alam wujud), hulul dan ittihad (kesendirian total), du'a al-amwat (doanya orang mati), dibarengi dengan nadzar, dan mendakwakan dirinya tahu hal ghaib. Inilah yang terang-terangan bertentangan dengan syariat Islam yang bersih dan suci.
Kedua macam tasawuf ini masih ada hingga sekarang di beberapa negeri. Namun tampaknya justru tasawuf model yang kedua inilah yang paling banyak tersebar.

SIKAP IMAM SYAHID

Imam Syahid telah mengambil sikap yang adil dan jalan tengah dalam berhadapan dengan tasawuf ini.
ia puji hal-hal yang baik di dalamnya dan ia cela penyelewengan-penyelewengannya. Sedangkan tolak ukur yang ia pakai adalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Itulah timbangan yang adil dan yang menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Imam Syahid menyadari sepenuhnya sejauh mana penyimpangan yang terjadi di dunia tasawuf, yang telah berdampak negatif pada kehidupan umat Islam, sehingga melapangkan jalan bagi masuknya kerusakan, kelemahan, kefakiran, keterbelakangan, kehinaan dan kebodohan. Sehingga umat ini mengalami penderitaan, baik dalam masalah dunia maupun agamanya, dalam bentuknya yang paling parah.
Ia menyadari sepenuhnya akan kondisi buruk ini sehingga menawarkan konsep pengobatannya dengan menggunakan dua sarana:
pertama, ia menyebut kebaikan-kebaikan tasawuf pada asal-mulanya, semisal akhlaqul karimah, zuhud dan jihad.
Kedua, ia menuturkan pula kejelekan-kejelekannya yang berupa bid'ah agama yang telah keluar jauh dari rel Islam.
Esensi itu dalam kandungan bukannya kemasan dan nama; dalam makna bukannya kerangka; dalam hakikat bukannya kata-kata.
Kini kita beralih pada bagaimana penjelasannya tentang itu semua.

MENCELA KEBURUKAN

Imam Asy-syahid melihat tasawuf yang ada, beliau mendapati kekurangan dan keburukan di dalamnya. Karena itu beliau mencela dan mengungkapkannya untuk dihancurkannya, lalu digantinya dengan kebaikan-kebaikan Islam.

ISLAM ITU MENYELURUH, BUKAN SPIRITUALISME SEMATA

salah satu hal negatif yang didapati dalam tasawuf adalah, mereka membatasi Islam hanya sebatas peribadatan sempit dan spiritualisme. Adapun istilahnya syumuliatul (universalisme) Islam, mereka tidak mengenalnya sama sekali.
Imam Syahid berkata, "dengarlah wahai saudaraku. Dakwah kami adalah dakwah yang menghimpun segala sesuatu yang disebut Islam. Kata ini mengandung makna yang sangat luas, bukan sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang. Kami berkeyakinan bahwa Islam memiliki makna yang universal, menyangkut seluruh aspek kehidupan. Artinya, Islam memberi bimbingan dan aturan yang terperinci untuk seluruh masalah kehidupan. Ia tidak bisu menghadapi problem kehidupan, namun sebaliknya ia selalu siap memberi solusi yang membawa maslahat bagi seluruh umat manusia.
Sebagian orang memahami Islam secara keliru. Mereka menganggap bahwa syariat Islam hanyalah seperangkat aturan ibadah dan petunjuk spiritual. Mereka beramal hanya dalam batas yang sempit sesuai dengan pemahamannya. Kita memahami Islam tidak sebatas apa yang mereka pahami, akan tetapi pemahaman yang luas dan menyeluruh; sebagai aturan kehidupan yang berdimensi dunia dan akhirat. Pemahaman ini bukanlah sikap latah dan mencari-cari, akan tetapi itulah yang kita pahami dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta apa yang diphami oleh salafusshaleh. Jika pembaca ingin memahami dakwah Ikhwan lebih jauh dari sekedar kata 'islamiah', maka ambillah mushaf dan pahamilah isinya baik-baik, dengan melepaskan seluruh subjektivitas dan hawa nafsunya. Dengan demikian ia akan mengetahui hakikat dakwah Ikhwan."*

KAMI BUKAN KELOMPOK DARWIS

Pada kesempatan lain,
Imam Syahid menjelaskan aliran tasawuf yang tercela dan mungkar, yang hanya melihat Islam dari sudut pandang yang sempit dan tidak menyeluruh sebagaimana seruan Allah Swt, dalam firman-Nya:

يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين. (البقرة: 208).

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagi kalian." (Al-Baqarah: 208).

firman-Nya pula:

قل إن صلاتي ونسكي و محياي ومماتي لله رب العالمين . لا شريك له و بذالك أمرت و أنا أول المسلمين. (الأنعام: 162, 163).

"Katakanlah bahwa shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan itulah saya diperintahkan dan saya adalah awal dari orang-orang yang berserah diri." (Al-An'am: 162-163).

Imam Syahid berkata: "

Tidak ada komentar:

Senantiasa Istiqomah