Senin, 14 September 2009

Introspeksi Diri Menuju CyberChat Yang Baik Dan Sehat Penuh Akhlaq Kesopanan

Sebelumnya saya ucapin terima kasih kepada teman-teman di Nimbuzz, saya termotivasi oleh mereka-mereka semua yang selalu memberikan pandangan-pandangan agar saya sudi kiranya menuliskan sedikit pembahasan mengenai manfaat berchating khususnya di Nimbuzz yang sekiranya dapat meningkatkan kualitas serta kuantitas kita menuju pada Akhlaq yang Terpuji.
Awal ketika saya mengenal Dunia Chating, saya di perkenalkan oleh seorang teman saya bagaimana caranya saya bisa berkomunikasi lewat CyberChat ini. dan saya pun sedikit-sedikit bisa memahami apa-apa yang sebetulnya yang di inginkan oleh UserChat itu sendiri.
Ketika saya berkeliling di dalam satu Room Ke Room yang lainnya, akhirnya saya mulai termotivasi pada hati saya untuk saling berbagi pengalaman di Blog yang saya tuliskan ini.
Sebetulnya, Nimbuzz yang saya pelajari ini banyak memberikan suatu pandangan-pandangan tertentu untuk dapat dan mampu meng-aplikasikan di dunia nyata. dan pandangan-pandangan inilah yang telah memberikan berbagai manfaat buat saya khususnya untuk berintrospeksi diri bagaimana dan kenapa serta apa yang hendak kita ambil dari sana.
Kemampuan seseorang dalam menelusuri apa-apa yang mengalir di dalam semua aktivitas perbuatan serta akal dan pemikirannya hendaklah harus selalu bersandarkan pada akhlaq-akhlaq ke-Islaman, karena dengan akhlaq inilah orang bisa menempatkan dirinya ke tempat posisi yang benar-benar tepat.
Saya akui, kemampuan yang selalu ter-asah di dalam pemikiran-pemikiran keingin tahuan seseorang, baik kemampuan dalam mempelajari secara pertanyaan yang di berikan kepada salah satu teman-temannya yang sekiranya berilmu lebih dan mengetahui apa-apa yang kita pertanyakan, ataupun secara tekstual dengan menggali di berbagai buku-buku yang sekiranya dapat membantu apa-apa yang sebetulnya kita pertanyakan agar dapat menambah ilmu maupun wawasan-wawasan baik secara pribadi maupun untuk orang lain.
Namun, ketika saya pribadi memperhatikan hal ini semua, saya merasa tergugah untuk menyimpulkan serta memberikan sebuah solusi yang sekiranya bermanfaat untuk kita kaji agar selalu berintrospeksi diri. Di dalam hal ini, saya memberikan 3 pandangan diantaranya:
'Ilmu-Yaqin
'Ainul-Yaqin
Haqqul-Yaqin
Tiga Konsep ini yang perlu kita perhatikan pada umumnya, baik di dunia "Nyata" maupun di Dunia "Cyber".

Kenapa demikian, karena ini merupakan sebuah rangkaian-rangkaian perbuatan secara umum yang ada pada diri kita. Kita kembali ke bahasan awal mengenai Chating di Nimbuzz tadi. Khususnya di room-room Muslim, ketika saya melihat secara detailnya, pada dasarnya kebanyakan menggunakan kemampuan-kemampuan dalam berfikir hanya berdasarkan tekstual saja, namun segala tingkah dan lakunya tidak menggambarkan apa-apa yang di ucapkannya. Dengan demikian, orang baru mengerti apa yang di baca saja, namun belum memahami secara hati, dan biasanya selalu terjadi konflik, di karenakan tidak memahami secara betul apanya di pelajarinya, kondisi ini masuk dalam kategori 'Ilmu Yaqin.

Sebaliknya, Orang tentu akan menilai setiap apa-apa yang kita katakan, dan orang yang membaca ataupun yang menilai kita itu selalu saja mengkaitkan dengan segala tingkah laku dan perbuatan kita. Dan hal ini harus dapat kita pahami, meskipun hal ini adalah hal yang lumrah-lumrah saja, namun hal ini sangatlah baik bila kita pelajari kembali agar segala tingkah laku kita senantiasa terkontrol dengan baik. Dari sisi ini maka akan terlihat tingkat kedewasaan seseorang dalam memahami segala halnya, meskipun pertanyaan itu datang dari segala arah, namun tetap memahaminya karena Ilmunya sudah tertanam di dalam hatinya, ini yang akan menjadikan kita semua agar mampu memahami setiap kata-kata yang terlontarkan di dalam diri kita agar senantiasa terjaga oleh lisannya, dalam sisi ini maka akan masuk pada keyakinan yang sudah tidak lagi berdasarkan Informasi semata, namun telah matang di dalam setiap halnya, kondisi ini sudah masuk dalam kategori Ainul Yakin.

Dan kita menuju pada tingkatan yang akhir yaitu Haqqul Yaqin, pada dasarnya adalah orang Hidup haruslah berbuat baik dalam setiap keadaan, tidak hanya dalam Dunia nyata, namun mampu mengkondisikan dirinya dalam setiap keadaan, walaupun dunia Cyber sekalipun, karena setiap jengkal perjalanan hidup manusia ada perhitungannya walaupun sengaja atau tidaknya kita dalam menjalani hidup ini penuh dengan kesia-sian. Kondisi ini yang akan mampu membawa dirinya senantiasa Itiqamah setiap saat setiap waktu dimanapun kita berada, Insya Allah Amien.

Mungkin, Blog ini saya awali dengan berintrospeksi diri menuju manfaat yang mandiri menuju pada blog-blog selanjutnya. saya minta maaf bila ada tulisan-tulisan yang sekiranya tidak berkenan di hati para pembacanya.


Wallaahu 'alam Bish-Showaab

Wassalaamu ' alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh.


Sumarno Cholil

Jumat, 29 Mei 2009

TASAWUF

Tasawuf
awal muncul dan perkembangannya

kita sering mendengar pembicaraan tentang tasawuf.
Ada sebagian orang yang memujinya secara berlebihan, namun ada pula yang secara habis-habisan mencelanya. Akhirnya pamahaman pun menjadi kabur dan kebenaran menjadi sulit ditangkap. Namun demikian, Allah SWT, telah membangkitkan para ulama yang dapat menjelaskan secara benar hakikat ini dengan timbangan syariat. Sebagian ulama itu adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Syahid Hassan Al-Banna. Keduanya telah memaparkan pendapatnya tentang tasawuf, dan mereka memiliki titik temu dalam pandangannya itu. Sebuah pandangan yang arif dan berada di jalan pertengahan.
Itulah pendapat dan pandangan yang menegaskan kebenaran dan mengingkari kebathilan tanpa sikap berlebihan.
Kini, mari kita simak nukilan dari pendapat-pendapat mereka berdua:

TUMBUHNYA TASAWUF

Tasawuf pertama kali muncul di Bashrah. Syaikhul Islam berkata: "pertama kali muncul tasawuf dari Bashrah. Sedang orang yang pertama kali membangun tasawuf adalah sahabat-sahabat Abdul Wahid bin Zaid.
Sedangkan Abdul Wahid adalah salah satu dari sahabat Hasan Al-Bashri. Ketika itu di Bashrah muncul fenomena ekstrem dalam zuhud, ibadah, khauf (rasa takut) dan sebagainya, yang tidak pernah ada bandingannya selama ini.*
Syaikhul Islam telah mengambil pendapat yang kuat mengenai penamaan tasawuf, yaitu: "pakaian yang berwarna shuf"

SEPUTAR KERANCUAN MASALAH TASAWUF

pada awlnya mereka adalah orang-orang yang menjalani kehidupan zuhud. Mereka begitu gigih dan tegar dalam menjalani gaya hidupnya itu, sehingga melahirkan perilaku yang tidak pernah dikenal pada masa generasi pertama Islam, baik pada masa sahabat maupun masa Tabi'n. Seperti teriak-teriak bila mendengar Qur'an dan lain sebagainya. Ada di antara mereka yang alim dan takwa tetapi ada pula yang jahil. Ada di antaranya yang ikhlas dan jujur namun ada pula yang dusta. Karena itu, orang pun simpang siur dalam menyikapinya, antara yang memuji dan mencela.
Syaikhul Islam berkata,
"orang-orang berselisih pendapat mengenai tasawuf. Satu kelompok mencela tasawuf seraya berkata bahwa mereka adalah para ahli bid'ah dan telah keluar dari sunnah. Dari kelompok ini dan para imam mereka banyak kita dapatkan nukilan pendapatnya yang cukup dikenal, yang kemudian diikuti oleh kelompok lain terutama dari kalangan ahli fiqih dan ilmu kalam. Sementara bkelompok lain memujinya secara berlebihan dan mengatakan bahwa ahli tasawuf adalah makhluk yang paling mulia dan paling sempurna setelah para nabi.*

PENDAPAT SYAIKHUL ISLAM

setelah ia mengungkap pendapat orang tentang tasawuf, ia kini mengungkapkan pendapatnya sendiri, yang menepuh jalan tengah dengan berpatokan kepada timbangan syariat.
Ia berkata, "pendapat kedua kelompok di atas sama sama tercelanya. Yang benar adalah bahwa mereka orang-orang yang taat kapada Allah ta'ala sebagaimana usaha orang-orang yang taat lainnya. Ada sebagian mereka yang ada di depan karena kesungguhan usahanya, ada diantara mereka yang cukupan saja. Di antara keduanya ada orang-orang yang berusaha namun jatuh dalam kekeliruan, sementara yang lain ada yang ahli berbuat dosa kemudian bertobatm atau tidak bertobat sama sekali. Sedangkan di antara orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada golongan tasawuf ini, ada pula yang menganiaya diri dan berbuat maksiat kepada Tuhannya."*

TASAWUF ITU HAKIKATNYA BAIK

Syaikhul Islam menjelaskan bahwa tasawuf itu asalnya baik. Ia berakar pada sikap zuhud, ibadah, tazkiyyah an-nafs (pembersihan jiwa), shidiq dan ikhlas.
Syaikhul Islam berkata, "tasawuf bagi mereka memiliki beberapa prinsip dan perilaku yang telah dikenal,
yang telah mereka bicarakan batas-batas dan asal-usulnya. Seperti apa yang mereka katakan bahwa sufi (ahli tasawuf) adalah orang yang bersih dari kotoran dan sarat dengan muatan fikir. Baginya sama saja antara emas dan batu. Tasawuf – demikian lanjutnya – adalah menyembunyikan makna dan menghindari pengakuan atau semisalnya. Mereka menghendaki dari makna tasawuf itu makna shidiq."*

PENYIMPANGAN TASAWUF

kita telah mengetahui bahwa tasawuf pada dasarnya baik, karena ia tegak di atas hal-hal yang ditetapkan Islam sebagai aplikasi kandungan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Namun di kemudian hadi banyak orang yang menisbatkan dirinya pada kelompok tasawuf ini, sementara mereka memiliki aqidah dan tujuan ibadah yang menyimpang dari semestinya. Mulailah praktek khurafat dan kebatilan merasuk ke dalamnya, yang bahkan diingkari oleh tokoh-tokoh lurus dari kalangan tasawuf itu sendiri.
Syaikhul Islam berkata, "beberapa kalangan dari ahli bid'ah dan zindik telah menisbatkan dirinya sebagai ahli tasawuf, namun di kalangan tokohnya yang lurus mereka tidak diakui. Seperti Al-Hallaj misalnya. Banyak di antara tokoh tasawuf yang mengingkarinya dan mengeluarkannya dari barisan mereka. Demikian juga dengan Junaid bin Muhammad Sayyidut Thaifah dan lainnya,
sebagaimana dalam Thabaqat Suufiyyah dan disebutkan pula oleh Al-Khatib Abu Bakar dalam Taarikh Baghdad."*
ketika itulah dalam dunia tasawuf bercampur aduk antara hal-hal yang haq dan yang bathil; yang lurus dan yang sesat; yang sunahdan yang bid'ah; kebodohan dan ilmu. Merasuklah ke dalamnya racun filsafat yang aneh-aneh. Tasawuf gaya filsafat yang aneh ini telah mendapatkan kritik dan pengingkaran yang tajam dari kalangan para ahli tasawuf yang lurus. Oleh sebab itu, tasawuf kemudian dapat dibagi menjadi dua:
Tasawuf Ahli Ilmu dan Istiqamah.
"di antara mereka adalah Fudhail bin 'Iyadh, Ibrahim bin Adham, Abi Sulaiman Ad-Daaraani, Ma'ruf Al-Karkhie, Junaid Bin Muhammad, Sahl bin Abdullah Al-Tastari dan lainnya. Semoga Allah meridhai mereka.*
Tasawuf Filsafat, bid'ah dan zindiqah.
Tasawuf ini memunculkan ajaran-ajaran aneh, semisal wihdatul wujud (bersatunya alam wujud), hulul dan ittihad (kesendirian total), du'a al-amwat (doanya orang mati), dibarengi dengan nadzar, dan mendakwakan dirinya tahu hal ghaib. Inilah yang terang-terangan bertentangan dengan syariat Islam yang bersih dan suci.
Kedua macam tasawuf ini masih ada hingga sekarang di beberapa negeri. Namun tampaknya justru tasawuf model yang kedua inilah yang paling banyak tersebar.

SIKAP IMAM SYAHID

Imam Syahid telah mengambil sikap yang adil dan jalan tengah dalam berhadapan dengan tasawuf ini.
ia puji hal-hal yang baik di dalamnya dan ia cela penyelewengan-penyelewengannya. Sedangkan tolak ukur yang ia pakai adalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Itulah timbangan yang adil dan yang menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Imam Syahid menyadari sepenuhnya sejauh mana penyimpangan yang terjadi di dunia tasawuf, yang telah berdampak negatif pada kehidupan umat Islam, sehingga melapangkan jalan bagi masuknya kerusakan, kelemahan, kefakiran, keterbelakangan, kehinaan dan kebodohan. Sehingga umat ini mengalami penderitaan, baik dalam masalah dunia maupun agamanya, dalam bentuknya yang paling parah.
Ia menyadari sepenuhnya akan kondisi buruk ini sehingga menawarkan konsep pengobatannya dengan menggunakan dua sarana:
pertama, ia menyebut kebaikan-kebaikan tasawuf pada asal-mulanya, semisal akhlaqul karimah, zuhud dan jihad.
Kedua, ia menuturkan pula kejelekan-kejelekannya yang berupa bid'ah agama yang telah keluar jauh dari rel Islam.
Esensi itu dalam kandungan bukannya kemasan dan nama; dalam makna bukannya kerangka; dalam hakikat bukannya kata-kata.
Kini kita beralih pada bagaimana penjelasannya tentang itu semua.

MENCELA KEBURUKAN

Imam Asy-syahid melihat tasawuf yang ada, beliau mendapati kekurangan dan keburukan di dalamnya. Karena itu beliau mencela dan mengungkapkannya untuk dihancurkannya, lalu digantinya dengan kebaikan-kebaikan Islam.

ISLAM ITU MENYELURUH, BUKAN SPIRITUALISME SEMATA

salah satu hal negatif yang didapati dalam tasawuf adalah, mereka membatasi Islam hanya sebatas peribadatan sempit dan spiritualisme. Adapun istilahnya syumuliatul (universalisme) Islam, mereka tidak mengenalnya sama sekali.
Imam Syahid berkata, "dengarlah wahai saudaraku. Dakwah kami adalah dakwah yang menghimpun segala sesuatu yang disebut Islam. Kata ini mengandung makna yang sangat luas, bukan sebagaimana yang dipahami oleh banyak orang. Kami berkeyakinan bahwa Islam memiliki makna yang universal, menyangkut seluruh aspek kehidupan. Artinya, Islam memberi bimbingan dan aturan yang terperinci untuk seluruh masalah kehidupan. Ia tidak bisu menghadapi problem kehidupan, namun sebaliknya ia selalu siap memberi solusi yang membawa maslahat bagi seluruh umat manusia.
Sebagian orang memahami Islam secara keliru. Mereka menganggap bahwa syariat Islam hanyalah seperangkat aturan ibadah dan petunjuk spiritual. Mereka beramal hanya dalam batas yang sempit sesuai dengan pemahamannya. Kita memahami Islam tidak sebatas apa yang mereka pahami, akan tetapi pemahaman yang luas dan menyeluruh; sebagai aturan kehidupan yang berdimensi dunia dan akhirat. Pemahaman ini bukanlah sikap latah dan mencari-cari, akan tetapi itulah yang kita pahami dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta apa yang diphami oleh salafusshaleh. Jika pembaca ingin memahami dakwah Ikhwan lebih jauh dari sekedar kata 'islamiah', maka ambillah mushaf dan pahamilah isinya baik-baik, dengan melepaskan seluruh subjektivitas dan hawa nafsunya. Dengan demikian ia akan mengetahui hakikat dakwah Ikhwan."*

KAMI BUKAN KELOMPOK DARWIS

Pada kesempatan lain,
Imam Syahid menjelaskan aliran tasawuf yang tercela dan mungkar, yang hanya melihat Islam dari sudut pandang yang sempit dan tidak menyeluruh sebagaimana seruan Allah Swt, dalam firman-Nya:

يا أيها الذين آمنوا ادخلوا في السلم كافة ولا تتبعوا خطوات الشيطان إنه لكم عدو مبين. (البقرة: 208).

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagi kalian." (Al-Baqarah: 208).

firman-Nya pula:

قل إن صلاتي ونسكي و محياي ومماتي لله رب العالمين . لا شريك له و بذالك أمرت و أنا أول المسلمين. (الأنعام: 162, 163).

"Katakanlah bahwa shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dengan itulah saya diperintahkan dan saya adalah awal dari orang-orang yang berserah diri." (Al-An'am: 162-163).

Imam Syahid berkata: "

Senin, 18 Mei 2009

KONDISI AKHLAQ

KONDISI AKHLAQ


Dari Dua Nilai Akhlaq yang pokok dalam perbuatannya menunjukkan 2 nilai perbuatan yaitu :

1. suatu perbuatan yang memudahkan manusia untuk menghilangkan sesuatu yang bisa mencelakakan orang lain
2. suatu perbuatan yang memudahkan manusia untuk berbuat baik terhadap orang lain.
Yang berhubungan dengan suatu perbuatan yang memudahkan manusia untuk menghilangkan sesuatu yang bisa mencelakakan orang lain diantaranya :
Kesuciandua bagian itu, kemudian, terbagi atas empat bagian antara lain :
a) Ihsan (kesucian) ----> bermakna kebajikan yang berhubungan dengan perbuatan hubungan dengan badani seseorang. ( contoh: seorang laki laki/permempuan bisa dikatan Muhsin/Muhsinah apabila absent dari hubungan badani yang tidak syah.
Catatan: nnafsu yang dating sejak awal merupakan nafsu yang di pengaruhi oleh kondisi alam, misalnya seorang bayi….dan nafsu yang dating dari sifat akhlaq yang sudah terkontaminasi dari segala bentuk, baik hal baik maupun hal buruk.
Tentang kesucian ini, agar mencapai sifat Yang Mulia
Wal yasta’ fifil ladziina laa yajiduuna nikaahaa (dan hendak lah orang yang tak menemukan Jodoh, menjaga kesucian mereka… (An_Nur : 23)
Walaa taqrobuz zinaa kaana faahisyaatan(w) wasaa a sabiilaa (dan janganlah dekat dekat dengan perbuatan zina, sesungguhnyaitu adalah perbuatan keji, dan buruk sekali jalan itu” Bani Israil : 32)
Dan tentang pengendalian ini, di perjelas pula dalam ayat ayat Allah yang berfirman :
Abtada’uuhaa maa katabnaahaa ‘alaihim illabtighoo a ridwaanillaahi famaa ro’awhaa haqqo ri’aayaatihaa….. (adapun tentang kerohiban, mereka mengada ngada itu; tiada kami mewajibkan itu kepada mereka, kecuali supaya mencari perkenan Allah, tetapi mereka tak melakukan itu dengan tindakan yang sebenarnya…. (Al Hadiid : 27)

5 cara dalam pengendalian hawa nafsu :
• mata yang membuat hati dan perbuatan kita kerah hal hal yang zinnah ataupun fithnah
• menghindari pendengaran pendengaran dari suara yang menimbulkan nafsu birahi
• mendengarkan ataupun melihat kisah cinta orang lain
• mencegah setiap kesempatan apapun. Yang mungkin bisa melibatkan perbuatn hina,
• berpuasa
b) amanah
amanah yaitu Jujur, sifat ini pula termasuk dalam kategori tidak melukai orang lain…..
tentunya ada tiga hal yaitu
1. bila di percaya berkhianat
2. bila berjanji mengingkari
3. bila berkata ia dusta
innallaaha laa yuhibbul khoo iniin (sesungguhnya Allah tidak suka pada orang yang berkhianat Al Anfal :58
Innallaaha ya’murukum an’tu addul amaanaati ilaa ahlihaa ( sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kamu supaya menyerahkan amanat kepada orang yang pantas menerimanya An_Nisaa :58
c) rendah hati
rendah hati (Hudna) atau Hun -- mengandung makna menahan diri dari perbuatan yang menyakiti orang lainsecara badaniyah.
Wa ‘ibaadur rohmaanil ladziina yamsyuuna ‘alaal ardhli hawnaa (adapun hamba Tuhan Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi degan rendah hati (Al Furqaan : 63)
Adfa’ billatii hiya ahsan fa idzal ladzii baynaka wa baynahu ‘adaawatun’ ka annahu waliyyun hamiim (tangkislah (keburukan) dengan sesuatu yang lebih baik, maka apabila antara engkau dan dia terdapat permusuhan, tiba tiba akan menjadi seperti kawan yang akrab” Haa Miim As_sajdah :34)
d) sopan santun
sopan santun atau Rifq ---- penuh dengan kegembiraan(talaqat), penuh senyuman dengan keramah tamahan
waquuluu linnaasi husnaa (dan berkatalah yang baik pada sekalian orang 2:83)
walaa taqfumaa laysa lakabihii ‘ilm innas sam’a wal bashooro wal fu aada kullu ulaa ika kaana ‘anhu mas uulaa (dan janganlah mengikuti apa yang engkau tak ketahui tentang itu. Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati, semuaa itu akan di mintai pertanggung jawabannya Bani Isroil :36)



kemudian, kita lanjutkan ke suatu perbuatan yang memudahkan manusia untuk berbuat baik terhadap orang lain. :
a). pemaaf
pemaaf atau sering di sebut dalam bahasa arabnya ‘afw atau memaafkan”
wal kaadhiimiinal ghoydho wal ‘aafiina ‘anin naas
(dan orang orang yang menahan marah, dan orang yang memberi ampun kepada manusia” Ali Imroon :133
wajazaa uu sayyi atin’ sayyi atun(m) mits luhaa, faman’afaa wa ash laha fa ajruhuu ‘alallaah innahuu laa yuhibbudh dhoolimiin (balasan kejahatan, ialah dengan kejahatan yang seumpamanya, tetapi siapa yang memaafkan dan berdamai, maka pahalanya di sisi Allaah. Sesungguhnya Dia tidak mengasihi orang orang yang aniaya” (asy-Syuro 40)
b). kebajikan

sifat kebajikan atau Ihsan yang dalam arti berbuat baik terhadap orang lain ini di sini bersifat itaai dzil qurba atau kebajikan terhadap kerabat
innallaaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa idzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsyaa i wal mun’kari walbaghy (sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, dan berbuat baik (kepada orang lain), dan memberi (sesuatu) kepada kerabat, dan melarang berbuat keji dan berbuat jahat dan memberontak….. An_Nahl 90
Adl (kebaikan karena kebaikan) -- fahsya -- suatu keburukkan tak sepadan dengan kebaikannya, Ihsan (kebaikan) menjadi Munkar --- sesuatu yang menyakitkan, bathinnya akan menolak dan akan fikirannya pun tidak setuju, kemudian itaai dzil qurbaa (kebaikan terhadap keluarga, bila di arahkan ketujuan yang salah, akan menjadi “Baghy” - ibarat hujan yang berlebihan, akan menghancurkan panen bagi penanam padi.

Wa ahsinuu innallaaha yuhibbul muhsiniin (Belanjakanlah di jalan Allah) dan berbuat baiklah (kepada orang lain). Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang berbuat baik Al- Baqoroh 195)

Walladziina idzaa anfaquu lam yusrifuu walam yaqturuu wakaana dzaalika qowaamaa (dan orang orang yang jika mereka membelanjakan harta, mereka takterlalu boros dan tak pula terlalukikir, dan mereka mengambil jalan tengah antara itu. Al-Furqaan 67)
c). keberanian
ini pun termasuk dalam kebajikan, yang bernalurikan keberanian atau syaja’at
wal ladziina qooll lahumun naasu innan naasa qod jama’uu lakum fa akhsyawhum fazaa dahum iimaanan(w) waqooluu hasbunallaahu wani’mal wakiil (orang orang yang para manusia berkata: sesungguhnya orang orang telah berkumpul hendak menyerang kamu, maka dari itu takut lah kepada mereka, tetapi itu (malah) menambah iman mereka, dan mereka berkata: Allah sudah cukup bagi kami, dan Dial ah pelindung sejati Ali ‘Imron 172)

Keberaniannya yang seperti ini merupakan keberanian dalam segala hal apapun demi mencegah kejahatan.
d). ketulusan
ketulusan atau “Sidq” ini merupakan kebajikan pula, sepanjang tak adanya dorongan untuk berkata dusta.
Wa idzaa qultum fa’diluu kaana dzaa qurbaa. (dan apabila kamu berkata, berkata lah yang benar, sekalipun terhadap keluarga sendiri (Al An-Am 153)

Walaa taktumuusy syuhaadah, waman(y) yaktumhaa fa innahuu aatsimun’ qolbuh (janganlah kamu menyembunyikan kesaksian. Dan barang siapa menyembunyikan itu, maka sungguh hatinya berdosa” Al Baqorooh 283)

e). sabar
kebajikan lain, yang berkembang dari sifat alamiah manusia adalah sabar atau Sobr

walanab luwanakum bisyai in(m) minal khowfi wal juu’I wanaqshim minal amwaali wal anfuusi wats-tsamaroot, wabasy-syirish shoobiriin

wal ladziina idzaa ashoobathum mushiibatun’ qooluu innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Ulaa ika ‘alaihim sholawaatun(m) mirrobbihim warohmah, wa ulaaika humul muhtaduun.

dan sesungguhnya kami akanmenguji kamu dengan sesuatu dari ketakutan dan kelaparan dan kehilangan harta dan jiwadan buah buahan. Dan berilahkabar yang baik pada orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata “sesungguhnya kami kepunyaan Allah, dan kami akan kembali kepada_Nya. Inilah orang yang mempunyai karunia dan rahmat dari Tuhan mereka, dan inilah orang yang terpimpin pada jalan yang benar. (Al Baqorooh 155-157

f). setia kawan
setia kawan (Muwasat)

wata ‘aawanuu ‘alal birri wat taqwaa walaa wanuu ‘alaal itsmi wal ‘udwaan
(dan tolong menolonglah dalam kebajikan dan kebaktian. Dan jangan lah kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan” (Al Maidah 97).


Ringkasan:

1. Yang berhubungan dengan suatu perbuatan yang memudahkan manusia untuk menghilangkan sesuatu yang bisa mencelakakan orang lain diantaranya :
a. Ihsan (kesucian)
b. amanah yaitu Jujur
c. sopan santun
d. rendah hati (Hudna) atau Hun

2. Perbuatan yang memudahkan manusia untuk berbuat baik terhadap orang lain. :
a. pemaaf
b. kebajikan
c. keberanian atau syaja’at
d. ketulusan atau “Sidq”
e. sabar atau Sobr
f. setia kawan (Muwasat)

Senin, 04 Mei 2009

AQIDAH TAUHID TIADA ILAH MELAINKAN ALLAH

AQIDAH TAUHID TIADA ILAH MELAINKAN ALLAH

Hikmatun La Ilaha Illallah (Tiada Tuhan melainkan Allah) merupakan bahagian pertama daripada kalimah pengakuan keimanan. Ia bermaksud tiada sesuatu pun yang patut ditujukan pengabdian melainkan Allah
1. Muhammad Rasulullah (Muhammad Utusan Allah) adalah bahagian keduanya. Ia bermaksud, pengabdian itu mestilah dilakukan berlandaskan ajaran dan cara yang ditunjuk ajar oleh Rasulullah SAW

2. Mentauhidkan Allah dengan makna makrifat yang sebenarnya hendaklah merangkumi tiga perkara yaitu :
a. Tauhid Rububiyyah
b. Tauhid Uluhiyyah
c. Tauhid Al-Asma’ was Sifât

TAUHID RUBUBIYYAH
Rububiyyah berasal daripada perkataan Rabb (رب) dan dari konteks linguistik, ia mengandungi beberapa maksud seperti berikut:
a) Pemeliharaan anak atau pemeliharaan kebun. Ia menjaga dari segala kesusahan kerana ia bertugas sebagai pemelihara, penjaga, pengasuh segala urusan yang berhubung dengan anak atau kebun.
b) Pemimpin atau pembela umat. Apabila ia memerintah ia menjalankan kepimpinan dan hukum; dan ia dianggap sebagai pemimpin masyarakat.
c) Majikan yang menjaga dan mengawasi rumah atau memilikinya juga digunakan sebagai penternak atau gembala. Ia bererti ada pertaliannya dengan fungsi raja yang memerintah, mendidik dan membela serta mengawasi. Jika perkataan Rabb digunakan untuk Dzat Ilahi, maka hakikatnya Allah merupakan Raja bagi segala makhluk. Ia sebagai Tuhan, sebagai Raja bagi segala raja, yang Maha Agung dan Maha Hakim serta tidak ada yang lebih agung dan hakim selainNya. Dia yang menjadikan alam semesta dengan pengaturan yang rapi, pemeliharaan dan pengendalian pergerakan seluruh alam.
Dari segi istilah syara’, Tauhid Rububiyyah bermaksud mentauhidkan Allah pada mencipta alam, mengurus dan mentadbirkannya, memiliki, memelihara, menghidup, mematikan dan seterusnya, di mana terkandung di dalamnya juga beriman dengan qadar.
Tauhid ini sahaja tidaklah mencukupi dalam mencapai iman dan Islam, kerana Allah SWT menyatakan bahawa orang-orang musyrik juga mengakui tauhid ini. FirmanNya di dalam Surah Yunus ayat 10:
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi atau siapakah yang memliki penciptaan, pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab: Allah! Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepadaNya?”
Rujuk juga surah Az-Zukhruf ayat 87, Al-Ankabut ayat 61 dan 63
Keingkaran manusia kepada adanya pencipta hanya kerana kesombongan dan ketakburan, bukan bererti fitrah manusia menolak adanya Pencipta. Kerana itu apabila kepompong kesombongan yang mengurung fitrah itu hilang, maka tanpa disedari manusia pada suatu waktu terpaksa menyerahkan dirinya kepada kekuasaan Allah dan meminta tolong kepadanya. Hakikat ini menjadi ketara apabila manusia menempuh detik-detik genting di mana segala pengharapan terputus, kecuali yang bersandar kepada Yang Maha Esa. FirmanNya di dalam surah Luqman ayat 32:
“Apabila mereka dilamun ombak yang (besar) seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya. Tetapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, maka sebahagian mereka sahaja yang tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar”
Daya memahami adanya Allah Yang Maha Pencipta, sudah semulajadi dibekalkan ke dalam naluri manusia. Oleh yang demikian, perbahasan mengenai Tauhid Rububiyyah bukanlah merupakan sasaran utama perbincangan Al-Quran. Persoalannya adalah sama ada fitrah ini dibentuk, dipupuk, diseleweng atau dibanteras. Jika dibanteras, bermakna manusia tersebut menzalimi dirinya sendiri. Sekiranya terseleweng maka akan songsanglah insan tadi mengharungi hidup ini, celakalah dia di neraka nanti.
Dan seandainya naluri ini dipupuk, dididik dan dipertingkatkan ketaqwaannya, maka pasti akan menatijahkan keyakinan yang bulat bahawa Allah sahajalah sumber cipta, Allah sahajalah yang berhak menerima pengabdian – ringkasnya pengiktirafan uluhiyah Allah secara mutlak dan serba merangkumi.
TAUHID ULUHIYYAH
Yaitu dengan ikhlas memberikan kepada Allah, dengan mahabbah(cinta) kepadaNya, khauf (takut) kepadaNya, raja’ (pengharapan), tawakal dan raghbah (keinginan) dan rahbah (kegerunan) hanya kepada Allah. Bahawa semua itu dibina dengan ibadat yang ikhlas zahir dan batinnya kepada dan kerana Allah. Tidak ada sekutu bagiNya, tidak dijadikan ibadat itu kepada selainNya. Seterusnya menerima segala hukum dengan yakin dan redha.
Perkataan Ilah lazimnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu sebagai TUHAN. Penterjemahan itu tidaklah salah tetapi pemahaman Bahasa Melayu terhadap perkataan Tuhan tidak merangkumi keseluruhan makna Ilah yang dikehendaki oleh nas syara’. Selain daripada Allah, perkataan Tuhan ditujukan kepada patung-patung berhala atau dewa-dewi Hindu dan Buddha. Orang Melayu yang beragama Islam yang tidak menyembah patung-patung itu tadi sudah tentu menganggap bahawa mereka sudah menyempurnakan kewajipan mengiktiraf Allah sebagai Tuhan dan bebas daripada syirik. Sedangkan pemahaman serpihan terhadap makna Ilah itu tadi akan mendedahkan mereka kepada pelbagai syirik lain yang boleh berlaku tanpa disedari dan di luar kefahaman.
Untuk mengelakkan kekeliruan, eloklah kita perhatikan kepada penggunaan perkataan ILAH di dalam Al-Quran:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ILAHnya…”(Al-Jatsiyah : 23)
Di dalam ayat ini Allah SWT telah menujukan perkatan ILAH kepada hawa nafsu. Sudah tentu perkataan ILAH yang diertikan sebagai tuhan menurut kefahaman biasa tidak akan dapat menggambarkan hawa nafsu sebagai tuhan. Ini membuktikan bahawa perkataan ILAH mempunyai makna yang jauh lebih luas dari perkataan tuhan yang biasa.
Perkataan ILAH membawa kepada pengertian yang saling melengkapi. Untuk tujuan perbincangan, kita bahagikan ia kepada enam pengertian iaitu:
1. Tuhan menurut pengertian lazim
2. Tumpuan atau matlamat pengabdian
3. Tempat perlindungan
4. Tumpuan kecintaan
5. Pemberi rezeki
6. Sumber perundangan
1. TUHAN – Menurut Kefahaman Lazim
Kalimah syahadah membawa pengertian bahawa tiada tuhan melainkan Allah, suatu hakikat yang telah kita sedia maklumi. FirmanNya:
“Allah menyaksikan bahawasanya tidak ada ILAH melainkan DIA. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mengatakan demikian juga). Yang menegakkan keadilan…” (Ali Imran : 1
Allah sahajalah Tuhan di langit dan di bumi, pendeknya di seluruh alam.
“…Dan Dialah ILAH di langit dan di bumi, dan Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui” (Az-Zukhruf : 84)
Sebagai Tuhan yang tunggal, segala kekuasaan dan penciptaan secara multak adalah hakNya sahaja.
“Katakanlah (Wahai Muhammad) : Ajaklah mereka yang kamu anggap (mereka itu berkuasa) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit mahupun di bumi. Dan mereka tidak mempunyai saham sedikit pun dalam pencapaian langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagiNya.” (Sabâ : 22)
2. ILAH – Tumpuan Dan Matlamat Pengabdian
Kita mengakui bahawa tiada yang berhak disembah selain Allah dan Allah sahajalah tumpuan serta matlamat pengabdian kita, tidak yang lain.
Bahkan sememangnya manusia dan jin itu diciptakan oleh Allah untuk tujuan pengabdian kepadaNya. Firman Allah:
Penyembahan dan pengabdian ini dilakukan dengan melaksanakan ibadat kepada Allah. Sehubungan dengan itu juga, perkataan ibadat mestilah difahami menurut pengertiannya yang sebenar agak ia tidak dipandang sempit. Pengaruh sekularisma yang memisahkan agama daripada kehidupan mendorong masyarakat agar memahami ibadat sebagai aturcara manusia berhubung dengan Tuhannya semata-mata tanpa ada kaitan dengan urusan kehidupannya di dunia dan hubungannya sesama manusia. Sedangkan kalimah syahadah menuntut supaya ibadah itu dilakukan setiap masa, di setiap tempat, meliputi dan menyerapi setiap aspek serta ruang lingkup hidup insaniah.
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan sekalian alam” (Al-An’am : 162)
“Dan tidaklah mereka itu diperintahkan, kecuali menyembah ILAH yang Esa, yang tiada ILAH melainkan Dia. Maha Suci (Allah) dari apa yang mereka sekutukan dengan Dia.” (At-Taubah : 31)
Ringkasnya, implikasi kalimah La Ilaha Illallah iaitu ialah, seluruh hidup mestilah berterusan di dalam ubudiyyah kepada Allah. Tiada sebarang pengabdian atau ketaatan yang berdiri sendiri bahkan semua tindakan, perbuatan dan khidmat yang diberikan mestilah terpancar dan bersumber daripada ketundukan dan kepatuhan kepada Allah semata-mata.
3. ILAH – Tempat Perlindungan
Kepercayaan dan kefahaman tentang kuasa Allah sudah tentu akan mewarasi fikiran bahawa tidak ada siapa yang mampu memberikan perlindungan secara mutlak selain daripada Allah. Segala perlindungan yang diberikan oleh mana jua makhluk adalah bersifat sementara dan bergantung terus kepada keizinanNya. Dia bebas mencabut keizinan itu pada bila-bila masa dan tinggallah insan itu berpaut pada dahan yang rapuh.
Maksud ILAH sebagai tempat perlindungan dapat dilihat dari ayat-ayat berikut sebagai contoh:
“Katakanlah : Aku berlindung dengan Rab manusia, Raja Manusia, ILAH manusia” (An-Nas : 1-3)
“Dialah Rab timur dan barat, tiada ILAH melainkan Dia. Maka terimalah Dia sebagai Pelindung.” (Al-Muzammil : 9)
Natijahnya, akan timbullah keyakinan bahawa Allah sahajalah yang mampu memberi manfaat atau mudharat (lihat Al-Ma’idah : 76). Ia juga akan membebaskan dari segala pautan ketakutan dan pengharapan yang lain dari Allah. Dengan cara ini akan hilanglah rasa gentar untuk melaksanakan hukum hakam Allah, walaupun terpaksa berhadapan dengan apa sahaja cabaran menurut perhitungan manusia.
Segala kemegahan dan kekuasaan kuasa-kuasa makluk itu akan menjdi fatamorgana yang sementara, tidak ubah seperti gagah perkasanya patung wayang kulit. Apabila selesai persembahan maka akan terhimpit-himpitlah mereka antara satu sama lain di dalam peti yang sempit, hinggakan yang paling gagah sebentar tadi akan berada di susunan paling bawah tertindas (lihat Al-Baqarah : 150).
4. ILAH – Tumpuan Kecintaan
Bagi mereka yang benar-benar mempersaksikan La Ilaha Illallah, maka Allah sahajalah yang menjadi tumpuan kecintaan mereka bahkan tiada yang menyamai atau menyaingi kecintaan tersebut. Perhatikan maksud ayat-ayat berikut:
“Katakanlah: Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara mara, isteri-isteri dan kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah semua itu lebih kamu cintai dari cinta kamu kepada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya? Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq (durhaka). (At-Taubah : 24)
“Dan ada di antara manusia orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang yang berbuat zalim itu mengetahui tatkala mereka melihat azab…” (Al-Baqarah : 165)
Segala cinta dan kasih sayang bagi mereka yang benar-benar beriman adalah hasil kecintaan kepada Allah. Sabda Nabi SAW yang bermaksud:
“Tiga perkara yang barangsiapa memilikinya nescaya dia akan merasa kemanisan iman, iaitu apabila Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari segala sesuatu selain keduanya, apabila seseorang mengasihi seseorang yang lain kerana Allah, dan apabila dia benci untuk kembali kepada kufur sebagaimana bencinya ia untuk dicampakkan ke dalam api neraka” – Riwayat Bukhari dan Muslim
5. ILAH – Pemberi Rezeki
Kalimah Syahadah menerangkan bahawa Allah sahajalah yang memberi rezeki, manakala makluk pula hanyalah pembawa atau penyampainya sahaja dan bukannya sumber yang boleh menambah atau menguranginya walau sebesar zarah. Ini adalah hakikat yang nyata, tetapi manusia selalu terlupa terutamanya apabila mereka hilang pertimbangan ketika mengharungi pancaroba dan cabaran hidup.
“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Apakah ada pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki dari langit dan bumi? Tiada ILAH selain Dia. Maka di manakah akalmu?(Al-Fatir : 3)
“Katakanlah: Bagaimana keadaan kamu jika Allah mencabut pendengaranmu, dan penglihatan serta menutup qalbumu? Apakah ada ILAH selain Allah yang berkuasa mengembalikan (itu semua) kepadamu? (Al-An’am : 46)
Menerima Allah sebagai ILAH yang satu-satunya memberikan rezeki, akan mendatangkan kesedaran bahawa memilih jalan yang tidak diredhai Allah tidak akan menambah rezeki yang telah ditetapkan untuk kita walaupun seberat zarah. Begitu juga, dengan mentaati perintah Allah tidak sekali-kali akan mengurangkan rezeki kita walaupun sekecil mana pun ia. Maka betapa sia-sianya usaha dan ikhtiar yang durhaka kepada Allah.
6. ILAH – Sumber Perundangan
ILAH juga membawa pengertian sebagai Zat yang kepadanya kita rujuk untuk mendapatkan ketentuan baik dan buruk, untuk mendapatkan hukum dan keputusan yang akan dipatuhi. Ia adalah aqidah yang terhasil daripada kefahaman bahawa Allah adalah satu-satunya ILAH yang Maka Perkasa, mempunyai kekuasaan yang mutlak, keagungan yang tidak terbanding. Kekuasaan Allah yang meliputi segala sesuatu itu tidak mungkin boleh dibahagi-bahagi. Ulamak bersepakat bahawa, seseorang itu menjadi kafir jika dia beriktiqad bahawa ada hukum yang lebih baik, adil dan praktikal berbanding dengan hukum Allah, atau ada sistem yang lebih baik atau setanding dengan syariatNya.
“Barangsiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Al-Maidah : 44)
Suatu ketika, seorang sahabat yang dahulunya beragama Nasrani, iaitu ‘Adi bin Hatim RA telah mendengar Nabi SAW membacakan sepotong firman Allah :
“… Mereka (Ahli Kitab) menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sdebagai Rab selain Allah, dan (juga mereka melakukan hal yang sama kepada) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah ILAH yang Maha Esa. Tiada ILAH selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan” (At-Taubah : 31)
Lantas beliau bertanya kepada Rasulullah SAW, bahawa kami (yakni orang Nasrani) tidak pernah menyembah mereka!. Jawab Rasulullah SAW, “Tetapi mereka menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, dan kemudian kamu patuh kepadanya. Dengan demikian itu kamu menyembah mereka.” – Maksud hadith riwayat Tirmizi dan Ibnu Jarir.
Ketentuan untuk memutuskan halal atau haram, sah atau tidak, baik atau buruk, adalah hak Allah semata-mata.. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hal ini mestilah tunduk dan patut kepada wahyu Allah.. Undang-undang yang kita iktiraf hanyalah undang-undang Allah, atau sesuatu yang bersumber daripada undang-undang Allah, dan pastinya tidak bertentangan dengan ketetapanNya.
“Menetapkan hukum itu adalah hak Allah.” (Al-An’am : 57)
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka Ad-Din yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura :21)
Syahadah kita menuntut supaya kita menentang dan membenci segala perundangan yang durhaka kepada Allah, dan inilah tanda keimanan. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila dia tidak mampu maka hendaklah merubahnya dengan lisannya dan jika tidak mampu maka hendaklah dia mencegahnya dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” – Riwayat Muslim
Ketaatan kita adalah kepada Allah, maka tiadalah kita terikat kepada undang-undang dan akta-akta ciptaan manusia sekiranya ia bertentangan dengan syariat Allah. FirmanNya:
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah, bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah : 50)
Sifat senang dan suka kepada hukum yang selain daripada hukum Allah, adalah sifat munafiq dan dilaknat oleh Allah. FirmanNya:
“Apakah kamu tidak perhatikan orang-orang yang mengaku dirinya beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kamu dan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada taghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari taghut itu. Dan syaitan itu bertujuan mahu menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah kamu semua (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul, nescaya kamu lihat orang-orang munafiq akan menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya daripada (mendekati) kamu” (An-Nisa’ : 60-61)
TAUHID AL-ASMA’ WAS SIFAT
Iaitu percaya dan mengakui segala nama dan sifat Allah SWT secara ijmal dan tafsil menurut apa yang telah diberitahu di dalam Al-Quran dan oleh Rasulullah SAW. Di mana Allah mempunyai Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang paling baik) dan segala sifat kesempurnaan Maha Suci dari segala kekurangan.
Perlu diketahui bahawa tauhid Al-Asma’ was Sifat ini tidak memadai untuk membuktikan keIslaman dan menyatakannya, tetapi mestilah melaksanakan apa yang lazimnya terkandung di dalam Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah. Ini adalah kerana orang-orang kafir juga mengakui beberapa sifat dan nama Tuhan tetapi tidak dengan cara yang sebenar, seperti mengakui beberapa nama Allah dan menafikan nama Ar-Rahman . Kata mereka, “Kami tidak mengenal Ar-Rahman (Maha Pemurah) melainkan Rahman di Al-Yamamah sahaja.”. Lalu Allah menurunkan firmanNya:
“Padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Ar-Rahman (Maha Pemurah)” (Ar-Ra’d : 30)
Mereka mengakui beberapa nama dan sifat Allah SWT tetapi mereka ingkarkan nama Ar-Rahman dengan maknanya yang sebenar, begitu juga dengan sifat-sifat Allah. Bahkan mereka mengada-adakan sifat yang tidak layak bagi Allah SWT.
PENUTUP
Perlu dijelaskan di sini bahawa enam bahagian pengertian dan pengolahan maksud serta implikasi perkataan ILAH diketengahkan di sini adalah dalam rangka untuk memudahkan pengupasan tajuk dan bukannya untuk membataskan maksud-maksud serta implikasi yang terkandung di dalam Al-Asma’ul Husna. Bahkan nama-nama dan sifat Allah yang mulia itu adalah kesimpulan kepada semua intipati Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah itu sebenarnya.
Bertafakurlah terhadap Al-Asma’ ul Husna nescaya ia akan membukakan hati kita kepada kefahaman yang lebih mendalam terhadap Uluhiyah dan Rububiyyah Allah SWT secara multak, tanpa sekutu dan tanpa bandingan.
Di dalam persoalan fiqh, pada keadaan-keadaan tertentu, kita dibolehkan bertaqlid kepada imam yang mujtahid. Tetapi di dalam masalah aqidah, ia tidak mungkin berlaku sedemikian rupa bahkan setiap individu wajiblah meyakinkan diri terhadap akidah yang dipegangnya secara ikhlas. Wallahu A’lam Bis Sawaab!

Introspeksi Diri Dalam Menggunakan CyberChat Di Nimbuzz Menuju Pada Amal Dan Perbuatan

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Assalaamu ' alaikum Warohmatullaahi wabarokaatuh

Sebelumnya saya ucapin terima kasih kepada teman-teman di Nimbuzz, saya termotivasi oleh mereka-mereka semua yang selalu memberikan pandangan-pandangan agar saya sudi kiranya menuliskan sedikit pembahasan mengenai manfaat berchating khususnya di Nimbuzz yang sekiranya dapat meningkatkan kualitas serta kuantitas kita menuju pada Akhlaq yang Terpuji.
Awal ketika saya mengenal Dunia Chating, saya di perkenalkan oleh seorang teman saya bagaimana caranya saya bisa berkomunikasi lewat CyberChat ini. dan saya pun sedikit-sedikit bisa memahami apa-apa yang sebetulnya yang di inginkan oleh UserChat itu sendiri.
Ketika saya berkeliling di dalam satu Room Ke Room yang lainnya, akhirnya saya mulai termotivasi pada hati saya untuk saling berbagi pengalaman di Blog yang saya tuliskan ini.
Sebetulnya, Nimbuzz yang saya pelajari ini banyak memberikan suatu pandangan-pandangan tertentu untuk dapat dan mampu meng-aplikasikan di dunia nyata. dan pandangan-pandangan inilah yang telah memberikan berbagai manfaat buat saya khususnya untuk berintrospeksi diri bagaimana dan kenapa serta apa yang hendak kita ambil dari sana.
Kemampuan seseorang dalam menelusuri apa-apa yang mengalir di dalam semua aktivitas perbuatan serta akal dan pemikirannya hendaklah harus selalu bersandarkan pada akhlaq-akhlaq ke-Islaman, karena dengan akhlaq inilah orang bisa menempatkan dirinya ke tempat posisi yang benar-benar tepat.
Saya akui, kemampuan yang selalu ter-asah di dalam pemikiran-pemikiran keingin tahuan seseorang, baik kemampuan dalam mempelajari secara pertanyaan yang di berikan kepada salah satu teman-temannya yang sekiranya berilmu lebih dan mengetahui apa-apa yang kita pertanyakan, ataupun secara tekstual dengan menggali di berbagai buku-buku yang sekiranya dapat membantu apa-apa yang sebetulnya kita pertanyakan agar dapat menambah ilmu maupun wawasan-wawasan baik secara pribadi maupun untuk orang lain.
Namun, ketika saya pribadi memperhatikan hal ini semua, saya merasa tergugah untuk menyimpulkan serta memberikan sebuah solusi yang sekiranya bermanfaat untuk kita kaji agar selalu berintrospeksi diri. Di dalam hal ini, saya memberikan 3 pandangan diantaranya:
  1. 'Ilmu-Yaqin
  2. 'Ainul-Yaqin
  3. Haqqul-Yaqin

Tiga Konsep ini yang perlu kita perhatikan pada umumnya, baik di dunia "Nyata" maupun di Dunia "Cyber".

Kenapa demikian, karena ini merupakan sebuah rangkaian-rangkaian perbuatan secara umum yang ada pada diri kita. Kita kembali ke bahasan awal mengenai Chating di Nimbuzz tadi. Khususnya di room-room Muslim, ketika saya melihat secara detailnya, pada dasarnya kebanyakan menggunakan kemampuan-kemampuan dalam berfikir hanya berdasarkan tekstual saja, namun segala tingkah dan lakunya tidak menggambarkan apa-apa yang di ucapkannya.

Orang tentu akan menilai setiap apa-apa yang kita katakan, dan orang yang membaca ataupun yang menilai kita itu selalu saja mengkaitkan dengan segala tingkah laku dan perbuatan kita. Dan hal ini harus dapat kita pahami, meskipun hal ini adalah hal yang lumrah-lumrah saja, namun hal ini sangatlah baik bila kita pelajari kembali agar segala tingkah laku kita senantiasa terkontrol dengan baik.

Mungkin, Blog ini saya awali dengan berintrospeksi diri menuju manfaat yang mandiri menuju pada blog-blog selanjutnya. saya minta maaf bila ada tulisan-tulisan yang sekiranya tidak berkenan di hati para pembacanya.

Wassalaamu ' alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh.

Sumarno Cholil

Senantiasa Istiqomah

Memuat...